Senin, Juli 06, 2009

Harus diperjuangkan...

"harus diperjuangkan..."

Kata yang paling sering aku denger sekarang ini..., tapi pertanyaannya adalah bagaimanakah caranya? Jikalau memang harus dengan membuat ikatan diluar ikatan yang sah tetntunya aku nggak mau, atau harus membuat ikatan tanpa ada ikatan itu sendiri?

bukankah memang ini yang terbaik? membiarkan semuanya mengalir dan menjadi begitu indah dengan sendirinya..., meniadakan ikatan yang tidak semestinya namun menjalin silaturahmi yang baik..., memuji keindahannya karena perlambangan kecintaan padaNYA...

Atau memang harus secara jujur dan terbuka mengatakan "Dirimulah yang kucari, namun tunggulah beberapa saat (waktu yang tidak menentu) karena ada beberaap hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu..."

Ahh, entahlah..., apa pula yang harus kuperjuangkan?

Selasa, Februari 17, 2009

kembali lagi..., apakah gerangan?

Selalu saja seperti ini, nggak tahu apa maksudnya. Aku bingung, deg-degan, mrinding, and my heart was beating so fast... begini ceritanya

Senin, 16 Februari 2009 Rapat panitia persiapan Rakor regional dilanjutkan di rumah orang tuaku di perum Berkoh 368, atau kami biasa nyebutnya warung keluarga, kebetulan disana selain warung dan fotocopy juga ada aktifitas jahitan pakaian. tepatnya setelah makan malam, salah seorang peserta rapat nyeletuk. "mas bajunya yang ungu bagus..., aku mau sebenernya...". Oh ya... aku jawab dengan nada yang hampir tak acuh sama pernyataan itu. Kemudian rapat pun berlanjut sampai hampir tengah malam, dengan peserta yang semakin berkurang dikarenakan ada jam malaam. Sepulangnya ke rumah niat hati ingin menanyakan baju ungu tadi ke ibunda, dan jawaban dari ibunda "wah, emang mau nikah apa, itukan baju buat nikahan". Terdiam, kaget, deg-deg an, nggak tahu mau ngomong apa lagi, cuma bisa jawab "Oh ya...". Entah sore tadi itu cuma sebuah keinginan lugu seorang anak gadis yang menyukai sebuah pakaian, ataukah sebenarnya dia tahu kalau itu sebuah gaun pengantin kebaya ungu dan secara implisit mengatakan "mas, segera lamar supaya kelak aku bisa mengenakan pakaian ini". Waduh, semakin bingung saja aku ini. Tapi tak boleh besar kepala, tetap jaga hati, insya Alloh.

Jumat, Januari 30, 2009

Harus bersabar...

Mungkin aku terlalu naif, jikalau hanya mengharapkan seorang yang telah memautkan hati pada pribadi yang lain.
Berdebar entah tak kumengerti dengan perasaan tak terperi bila melihat keindahan kata dan makna dibalik keindahan ungkapan hati.
Tapi jikalau dialah yang terbaik untukku saat ini dan seterusnya, akan kujaga sepenuh hati ketulusan yang tercurahkan.
Kini ku hanya berharap, tunjukanlah kejelasan dan bukalah hati kami semua yaa Fattah.
Agar kelak siapapun takdir dariMu kan dapat dengan segenap hati diterima hingga tiba saatnya nanti.
Untuk saat ini, harus kukatakan bersabarlah duhai bidadari kecilku... entah aku atau dia yang lebih dulu menyempurnakan separuh hati.

Jumat, Januari 09, 2009

ternyata dingin...

kemarin dikasih pertanyaan sama rosita,
seandainya aku ada di pinggir danau,
danau macam apa yang ada dalam bayanganku,
ternyata aku jawab dalam dan airnya dingin,
selanjutnya kalau lagi di hutan pengen ketemu hewan pengen ketemu apa,
aku jawab harimau,

dan ternyata...
kata Rosita lagi,
air yang dalam menggambarkan bagaimana aku menanggapi sebuah hubungan,
dalam tapi dingin, begitu bermakna tapi ga bisa menunjukan perasaan yang ada
dan hewan itu berarti penggambaran seperti apa orang lain, menilai diriku.

ya, jikalau sebagian besar orang saat ini berlomba-lomba
untuk menjadi peran protagonis, aku akan memilih peran yang antagonis
bukan karena aku merasa bangga dengan menjadi berbeda
tapi itu semua supaya sahabat-sahabat dapat meihat dari sisi yang lebih banyak lagi
agar kelak semua dapat mencapai kesempurnaan.

dan teruntuk beidadari kecilku,
maaf, sampai saat ini masih belum berani kutunjukan
sesungguhnya harapan itu sampai saat ini masih aku jaga baik-baik dalam hati

Jumat, Januari 02, 2009

Ahhh...

Dalam legam hatiku,
lekat erat bayangmu memanja
Terengkuh syahdu di setiap sunyi yang menggebu
Lengang waktu yang selalu memaut kelam rinduku
Membawa arakan karang saat imaji tertahan

Meski raga terhempas arah
Tak kan ruat pemikiranku
Karna gejolak jiwaku terus saja berbunga harap
Nantikan keping cintamu membelenggu ringkih hatiku
Hapuskan segala pengapnya rasa
Dan lantunkan nada yang serupa dansa

Ahh...Tak terlalu turut terajut
Aku hanya merindukanmu saja

my little angel




selayaknya seorang anak yang polos
selalu ingin mengetahui apa yang ingin diketahuinya
tatapan mata yang jujur
keceriaan dan keengganan tanpa basa-basi
tiada persepsi mengenai orang lain
ya... my little angel
you are my inspiration
ya... jikalau ditanya mengapa, aku cuma bisa jawab

"tidak ada alasan untuk tidak mencintai seseorang
yang begitu dicintai oleh Alloh dan malaikat-malaikatnya",

bismillah...

Selasa, Desember 30, 2008

Sungguh... Aku berdebar-debar

Ya Alloh...
Ada apakah gerangan di dalam diri ini
hal yang mampu menandingi berdebarnya jantung ini
selain disaat ku tertunduk takut padamu.
Apakah ada sesuatu di dalam hatiku yang menggatikanmu Yaa Aliim?
Sungguh, aku berdebar-debar
Ampuni hamba Yaa Ghofar...

Life is like a box of chocolate




Hal yang pernah ditanyakan pada sahabat-sahabat. Mana yang harus saya pilih, bersikap pemalu, diam, penuh kasih sayang layaknya Ustman Bin Affan ataukah cinta kasih yang lugas dan tegas layaknya Umar bin Khattab. Dan kebanyakan berkata, "lebih baik keduanya saja wen, kan bisa diambil yang baik, dan disingkirkan yang buruk". Ada sebuah kesamaan pda keduanya, yakni hai yang lembut dan penuh cinta kasih. It's just the matter how you impress it, aku labih enderung dengan apa yang diucapkan Rofi. Inilah yang bisa disebut dengan cara, atau dalam bahasa modernnya adalah laku dalam hidup.

Selasa, Desember 16, 2008

Thariq bin Ziyadh




“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian ?”

Pidato di atas yang masih ada lanjutan yang panjang ini begitu menggetarkan, terlebih lagi ia diucapkan setelah adanya seruan untuk berjihad dan mati syahid. Pidato terkenal ini dilontarkan oleh seorang panglima perang Islam ketika hendak menaklukkan negeri Andalusia (Spanyol). Ialah Thariq bin Ziyad.

Nama pejuang Islam ini begitu harum, hingga harus diabadikan untuk sebuah semenanjung perbukitan karang setinggi 425 m di pantai tenggara Spanyol, Gibraltar atau Jabal Tariq. Mengenai asal-usul dan sejarah hidupnya, sangat sedikit buku sejarah yang menceritakannya. Thariq bin ziyad berasal dari bangsa Barbar, mengenai sukunya, para sejarawan masih berbeda pendapat; dari suku Nafza atau suku Zanata. Ia bekas seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Musa bin Nushair, Gubernur Afrika Utara dan di tangan Musa ini pula ia memeluk agama Islam bersama orang-orang Barbar lainnya yang tunduk di bawah kekuasaannya setelah menaklukkan daerah Tanja. Di kisahkan bahwa setelah masuk Islam, mereka menjalankan agama Islam dengan baik. Oleh karena itu, sebelum Musa pulang ke Afrika, ia meninggalkan beberapa orang Arab untuk mengajari mereka Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam. Setelah itu Musa mengangkat Thariq, yang merupakan prajurit Musa yang terkuat, menjadi penguasa daerah Tanja, ujung Maroko dengan 19.000 tentara dari bangsa Barbar, lengkap dengan persenjataannya.

Pada bulan Rajab tahun 97 H (Juli 711 M), Thariq bin Ziyad mendapat perintah dari Musa bin Nushair untuk menyerang semenajung Andalusia. Dengan 7000 prajurit yang sebagian besar dari bangsa Barbar, Thariq menyeberangi selat Andalusia yang jaraknya hanya 13 mil dengan perahu-perahu pemberian Julian, gubernur Ceuta di Afrika Utara, yang bersekutu dengan kaum muslimin untuk menentang raja Roderick, penguasa kerajaan Visigoth di Andalusia. Setelah mendarat di pantai karang yang kemudian dinamai Gibraltar, Thariq beserta pasukannya berhadapan dengan 25.000 prajurit Visigoth. Pada mulanya kedatangan pasukan Thariq ini membuat heran Tudmir, penguasa setempat yang berada di bawah kekuasaan Raja Roderick, karena mereka datang dari arah yang tidak diduga-duga, yaitu dari arah laut. Walaupun jumlah pasukan kaum muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh, namun jumlah yang banyak tersebut tidak membuat gentar pasukan kaum muslimin, terlebih setelah mereka mendengarkan pidato panjang yang membuat jiwa mereka menggelora yang disampaikan oleh panglima mereka, Thariq bin Ziyad. Akhirnya pertempuran ini dimenangkan oleh Thariq dan Raja Roderick sendiri tewas dalam pertempuran tersebut.

Kemudian Thariq meminta tambahan pasukan kepada Musa. Lalu dikirimlah 5000 prajurit yang sebagian besar berasal dari bangsa Barbar. Satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq; Toledo, Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Antara musim semi sampai musim panas tahun 711 H, Thariq telah berhasil menguasai separuh wilayah Andalusia. Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah saw bersama keempat khulafa’ al-rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah saw. memberi tahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah saw. menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat ke Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis: Saya telah menjalankanperintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.